KATEKISMUS GBI – PNEUMATOLOGI

BAHASA LIDAH

Pneumatologi mengacu pada disiplin tertentu dalam teologi Kristen yang berfokus pada studi tentang Roh Kudus.

Dalam Katekismus GBI terbagi menjadi beberapa bagian sbb:

  1. Kepribadian Roh Kudus
  2. Buah Roh Kudus
  3. Karunia Roh Kudus
  4. Baptisan Roh
  5. Bahasa Lidah
  6. Peperangan Rohani

 

BAHASA LIDAH

 

1. Apakah bahasa lidah itu? Dari manakah sumbernya

Bahasa lidah adalah sebuah kemampuan ilahi dalam berkata-kata dalam bahasa yang bukan bersumber dari penuturnya. Bahasa lidah dikaruniakan Roh Kudus yang dipergunakan untuk memuji Tuhan dan kesaksian bagi bangsa-bangsa yang awalnya terjadi pada hari pencurahan Roh Kudus 

Kisah 2:4, 11 Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

 

2. Apakah bahasa lidah mempunyai keterkaitan dengan keselamatan?

Bahasa lidah TIDAK ada kaitannya dengan keselamatan. Keselamatan orang percaya ialah melalui kelahiran baru (Yohanes 3; Roma 3), sementara bahasa lidah adalah tanda seorang dibaptis roh Kudus.

 

3. Apakah semua orang percaya harus bisa berbahasa lidah?

GBI meyakini bahwa seorang yang telah percaya kepada Yesus harus mengharapkan untuk menerima baptisan Roh Kudus. Sedangkan bahasa lidah adalah tanda awal yang nyata dari baptisan tersebut, Tidak perlu harus dapat berbahasa lidah setelah menerima tanda awal. 

 

4. Apakah bahasa lidah dapat dipelajari dan dilakukan “pancingan” dengan cara seseorang melakukan pengucapan misalnya “haleluya…haleluya….haleluya” supaya dapat bahasa lidah?

Bahasa lidah adalah karunia dan karenanya tidak  dapat direkayasa manusia. Seseorang dapat mengharapkan dengan iman, tetapi seperti yang disebutkan dalam Kisah 2:4 “…. seperti yang diberikan oleh Roh itu  kepada mereka untuk mengatakannya.” Berarti, Roh-lah yang berdaulat untuk memberikannya.

Kisah 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

 

5. Apakah bahasa lidah yang disebutkan pada Kisah 2, sama dengan yang disebutkan dalam 1 Korintus 12 dan 14. Jika sama mengapa, jika 1tidak sama bagaimana memahaminya? 

Tidak sama! Beberapa perbedaannya sebagai berikut:

Bahasa lidah yang di Kisah Rasul adalah sebuah penanda dari baptisan Roh Kudus sekali dalam sejarah kehidupan orang percaya yang biasa disebut sebagai pekerjaan anugerah kedua atau berkat kedua setelah seseorang percaya. Sementara bahasa lidah yang di Korintus adalah sebagai salah satu karunia dari karunia lainnya yang diberikan Roh Kudus.

Bahasa lidah di Kisah Rasul terkait dengan pemberdayaan orang percaya untuk misi, sementara karunia berbahasa lidah di Korintus diperuntukkan untuk membangun kehidupan rohani seseorang yang berdoa pada konteks doa pribadi dan membangun tubuh Kristus pada penggunaan di konteks ibadah bersama.

 

6. Apakah seseorang yang berbahasa lidah itu pertanda kedewasaan seseorang?

Karena bahasa lidah adalah anugerah yang diberikan secara berdaulat oleh Roh Kudus. Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan tingkat kedewasaan rohani seseorang. Kedewasaan rohani orang percaya bukanlah suatu hal yang instan. Kedewasaan hanya dapat dicapai seseorang melalui proses yang disengaja, baik melalui disiplin diri maupun pemuridan yang dituntun oleh Roh Kudus.

 

7. Selain bahasa lidah sebagai tanda seseorang dibaptis Roh Kudus, apa lagi fungsi berbahasa lidah?

Berbicara bahasa lidah dapat membangun dan menguatkan kehidupan orang percaya

1 Korintus 14:4 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat. 

Berbahasa lidah dapat menjadi bentuk doa dan penyembahan, yang mengizinkan Roh Kudus untuk melakukan intervensi dan berkomunikasi dengan Allah melampaui batas-batas bahasa manusia

1 Korintus 14:2 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengertinya, oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

Bahasa lidah dapat menjadi tanda bagi orang yang tidak percaya: Pada situasi-situasi tertentu, berbicara bahasa lidah bertujuan untuk menjadi sebuah tanda atau bukti pekerjaan Roh Kudus, secara khusus pada konteks penginjilan dan pertumbuhan gereja

Kisah 2, Kisah 10

 

8. Apakah diperbolehkan berbahasa lidah yang tidak diterjemahkan di tengah-tengah ibadah korporat (ibadah bersama)?

Dalam tradisi GBI, hal itu diperbolehkan, karena dapat dimaknai, sebagai cara yang disepakati untuk intim dengan Roh Kudus. Sebagai contoh: pada abad pertengahan, orang-orang Kristen menggunakan sarana pada ritual ibadah mereka seperti pelantunan berulang-ulang (chanting), dengan tujuan untuk menunjukkan keintiman dengan Tuhan.

 

9. Apa makna bahasa lidah harus diterjemahkan dan diucapkan secara bergantian tidak lebih dari 3 orang dalam 1 Korintus 14?

Dalam konteks 1 Korintus 14, Paulus sedang mengecam praktik penyalahgunaan karunia Roh yang menimbulkan ketidaktertiban dalam ibadah. Namun, hal ini jangan dijadikan suatu aturan yang kaku! Intinya, gereja perlu menjaga ketertiban dalam peribadatan, meskipun lebih dari tiga orang berbahasa lidah.

 

10. Apa artinya 1 Korintus 14:22  “…karunia bahasa lidah adalah tanda, bukan untuk orang beriman…”?

Konteks dari 1 Korintus 14:22 ialah bahwa Paulus sedang mengutip Ulangan 28:49, yang mengingatkan bahasa asing merupakan peringatan bagi orang-orang yang tidak percaya.

1 Korintus 14:22 Karena itu karunia bahasa lidah adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.
Ulangan 28:49 Tuhan akan mendatangkan kepadamu suatu bangsa dari jauh, dari ujung bumi. Bangsa itu seperti rajawali yang menyambar dan bahasanya tidak kamu mengerti

 

Sumber: Katekismus GBI – Pneumatologi

 

Silakan share :