Renungan Khusus

 Minggu Kelima Oktober 2021

 

Banyak nilai yang terkandung dalam peristiwa ini, intinya adalah suatu pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan pemuda Indonesia dengan menyatakan janji satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia. Marilah kita bertanya pada diri sendiri, “Masihkah kita menjadi orang berintegritas yang menghidupi nilai Sumpah Pemuda hari-hari ini, atau justru nilai itu sudah merosot?”

Membangun Generasi Yang Menghidupi Sumpah Pemuda di Tahun Integritas

Oktober bisa dikatakan bulannya pemuda Indonesia, karena Sumpah Pemuda pertama kali diikrarkan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Banyak nilai yang terkandung dalam peristiwa ini, intinya adalah suatu pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan pemuda Indonesia dengan menyatakan janji satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia.

Marilah kita bertanya pada diri sendiri, “Masihkah kita menjadi orang berintegritas yang menghidupi nilai Sumpah Pemuda hari-hari ini, atau justru nilai itu sudah merosot?”

 

Zaman dulu kondisi bangsa kita tidak semudah seperti sekarang ini. Sebelumnya pemerintah kolonial Belanda mengizinkan pendirian gerakan-gerakan politik lokal, tetapi ketika ideologi nasionalisme Indonesia diradikalisasi pada tahun 1920-an, Belanda kemudian mengubah kebijakannya itu. Sebuah rezim yang relatif toleran diganti dengan rezim represif yang menekan semua tindakan yang diduga subversif. Rezim represif ini memperparah keadaan dengan meradikalisasi seluruh gerakan nasionalis Indonesia. Pemimpin nasionalis muda, seperti Soekarno dan Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan.

 

Pemuda zaman dulu harus menghadapi keadaan mencekam akibat penjajahan, tetapi karena adanya semangat persatuan, mereka bersatu mendobrak egoisme kesukuan dan kedaerahan saat itu dan menyadari bahwa satu-satunya jalan mengusir penjajah adalah menggalang kekuatan bersama dengan semangat persatuan, dan tekad itu terwujud dalam sebuah ikrar untuk berbangsa, berbahasa dan bertanah air INDONESIA.

 

Dahulu musuh kita mungkin adalah penjajah, namun di era saat ini tidak lagi, musuh kita justru berasal dari internal. Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang pesat, semakin besar juga tantangan pemuda dalam merawat semangat Sumpah Pemuda. Pemuda Indonesia saat ini sepertinya sudah kehilangan makna sejati Sumpah Pemuda:

  1. Pemuda yang dulu bersenjata bambu runcing melawan penjajah, sekarang banyak yang sibuk bersenjata gadget meraih eksistensi dirinya sendiri.

Pemuda yang dulu berkorban banyak hal untuk merebut kemerdekaan, sekarang banyak yang sibuk berteriak mencari kesenangan pribadi. Dikhawatirkan generasi muda saat ini menjadi apatis dan kehilangan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat sekitarnya.

 Banyak generasi milenial lebih suka memakai barang branded yang bonafit buatan luar daripada menggunakan produk lokal, kontras dengan makna Sumpah Pemuda untuk kita saling gotong royong bersatu untuk Tanah Air Indonesia.

     Padahal peran generasi muda sangat dibutuhkan untuk membantu perekonomian negara dengan ikut memakai bahkan mempromosikan brand lokal. Dan lebih baik lagi jika generasi muda memunculkan potensi dirinya sebagai entrepreneur yang menciptakan brand lokal. Hal ini termasuk salah satu kontribusi positif untuk menjaga, melestarikan dan merawat Sumpah Pemuda.

 Terkadang generasi muda tidak bersikap selektif, sehingga informasi yang didapatkan dari berbagai media tidak dicari kebenarannya dan hal inilah yang menyebabkan mereka mudah terpengaruh berita hoaks dan ikut memprovokasi pihak lain.

     Padahal peran generasi muda sangat diperlukan, dan punya pengaruh dan peranan yang besar dalam menentukan kepemimpinan bangsa beberapa tahun ke depan. Dengan kemudahan informasi yang didapatkan harusnya generasi muda lebih mampu berkontribusi positif.

 Banyak anak muda Indonesia menyukai film dan lagu dari luar, bahkan ikut-ikutan trend, sangat bangga menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi, menyanyikan lagu luar terus menerus sehingga melupakan lagu Indonesia.

     Baik jika generasi muda berintelektual tinggi sampai menguasai berbagai bahasa asing, tetapi jangan pernah melupakan jati diri bangsa, terlalu bangga dengan bahasa asing sampai tidak lagi bangga dengan Bahasa Indonesia.

     Hal ini kontras dengan makna Sumpah Pemuda yang mengikrarkan “Berbahasa yang satu, Bahasa Indonesia.” Padahal seharusnya generasi ini bisa menjadi kebanggaan Indonesia dengan intelektualitas dan kemampuan yang dimiliki, tetapi tetap dengan konsisten menjaga makna sejati Sumpah Pemuda.

 

Dari sisi rohaninya, sesuai tema 2021 yang diberikan Tuhan kepada Bapak Gembala, kita harus memiliki INTEGRITAS. Salah satu ciri seorang benar yang berintegritas terletak pada perkataannya yang selaras dengan perbuatannya. Bukan hanya berkata-kata yang muluk-muluk, tetapi tidak dilakukan. Integritas sangat diperlukan anak Tuhan zaman ini.

 

Jika melihat kembali kepada ayat emas tahun ini, The Year of Integrity yang terdapat di Mazmur 24:3 di mana tempat yang kudus dan gunung Tuhan itu yang kita nanti-nantikan, momen kembali bertemu dengan Tuhan di tempat Mahakudus. Lalu siapa yang boleh naik dan diterima? Jawabannya Mazmur 24:4,

 

“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya,

yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan,

dan yang tidak bersumpah palsu.”

 

Orang berlomba menjadi yang terbaik dan menghalalkan segala cara untuk mencapainya, tapi percayalah ada reward yang indah dari-Nya untuk kita yang masih memegang prinsip integritas. Di tengah krisis integritas, ayat tadi jelas mengatakan bahwa reward bagi orang yang berintegritas; yang perkataannya selaras perbuatannya, tidak menipu, tidak bersumpah palsu, bersih tangannya dan murni hatinya adalah tempat yang sangat indah. Bersama DIA kita diperbolehkan naik ke gunung-Nya, berdiri di tempat-Nya yang Mahakudus. Bayangkan tidak ada manusia mana pun yang bisa membeli reward yang Tuhan berikan kepada kita orang yang berintegritas.

 

Kristus adalah teladan dalam hidup berintegritas. Kita harus menjadi serupa Kristus. Dia akan memampukan kita yang mau terus menjaga integritas tetap ada di dalam kita. Di lain sisi kita harus belajar bagaimana membangun kembali generasi yang menghidupi Sumpah Pemuda di tahun integritas ini. Berikut beberapa poin cara membangunnya:

  1. Introspeksi, tanyakan pada diri sendiri apakah sudah melakukan sesuatu untuk bangsa?
  2. Mengusahakan kesejahteraan bangsa dengan memberikan kontribusi secara aktif dan nyata.
  3. Menanamkan sikap cinta Tanah Air dalam diri sendiri.
  4. Terbeban untuk berdoa bagi bangsa.

 

Bukan perpecahan bangsa dan hilangnya rasa cinta tanah air yang harusnya ada saat ini.

“Jangan tanyakan apa yang bangsa ini sudah berikan untuk kita,

tetapi tanyakan pada diri kita sendiri; apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa ini?”

 

Yeremia 29:7 berkata:

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang,

dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan,

sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

 

Penting melakukan suatu hal yang nyata untuk kesejahteraan kota atau bangsa di mana kita ditempatkan Tuhan. ‘Mengusahakan’ itu mencakup banyak hal:

  • turut memikirkan untuk mencari solusi bagi masalah-masalah bangsa ini.
  • melakukan sesuatu sebagai kontribusi bagi bangsa ini.

 

Seperti yang terlihat, mengusahakan kesejahteraan bukan hal yang sepele. Saat Tuhan minta untuk mengusahakannya, harusnya hal itu menjadi fokus kita, bukan angin lalu. Mari kita perlihatkan kontribusi dan peran aktif dan nyata kita untuk membangun kesejahteraan bangsa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk berkontribusi mengusahakan kesejahteraan bangsa:

  1. Hindari perpecahan; jangan memprovokasi isu SARA, rasisme dan lainnya.
  2. Jangan melupakan nilai-nilai persatuan bangsamu.
  3. Tunjukkan sikap cinta tanah air, cinta akan bangsamu dengan mengingat dan mendengungkan lagu-lagu Indonesia.
  4. Gaya hidup tidak terlampau kebarat-baratan, ketimur-timuran atau kekorea-koreaan hanya untuk mengikuti
  5. Mendukung produk lokal dan bepergian ke daerah-daerah di Indonesia akan menambah devisa Negara.

 

Hal positif lainnya, khususnya berdoa bagi bangsa. Kita tidak bisa memberikan kontribusi dan berdoa bagi bangsa, jika kita tidak mencintainya. Jika kita benar-benar mencintai Indonesia termasuk penduduk dan alamnya, kita akan memiliki kerinduan untuk mengusahakan dan mengerahkan kemampuan yang dimiliki demi kesejahteraan Indonesia. Kuncinya adalah tumbuhkan sikap cinta tanah air, cintailah bangsa seperti dulu saat Sumpah Pemuda diikrarkan, dan hidup berintegritas bukan hanya di depan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan. Amin. (KG)

Sumber : Warta Pusat HMMinistry

 

Silakan share :