Renungan Khusus

 Minggu Ketiga Desember 2019

 

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22-23)

Buah Kelahiran Baru Buah Roh

Secara biologi, buah adalah sesuatu yang dihasilkan oleh sebuah pohon sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Semua buah secara alamiah mengandung benih dari pohonnya, dan beberapa jenis buah juga memiliki bagian yang dapat dimakan oleh manusia.

 

Dalam kondisi normal, buah dari sebuah pohon muncul secara alamiah pada waktunya. Buah sebuah pohon sebenarnya ditujukan sebagai cara untuk pohon tersebut menyebarkan benihnya. Buah akan dimakan oleh binatang atau manusia, kemudian benih yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon baru. Jadi, buah sebuah pohon adalah cara untuk pohon tersebut bermultiplikasi.

 

Di dalam Alkitab, hidup orang percaya beberapa kali digambarkan seperti sebuah pohon (Mzm 1:1-3), artinya sesuatu yang ditanam kemudian bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam hal ini, buah adalah sesuatu yang keluar dari hidup orang percaya setelah menerima pertumbuhan dari Roh Kudus, kemudian dinikmati oleh orang lain sehingga orang tersebut pada akhirnya juga bisa mengalami kehidupan yang sama.

 

  1. Apa Itu Buah Roh ?

Seseorang ketika lahir baru dan mempunyai iman percaya kepada Yesus sebagai sang Juruselamat, maka orang itu akan mengalami tranformasi dalam hidupnya. Perubahan dari yang tadinya menyukai dosa, tahap demi tahap akan semakin mencintai kebenaran. Transformasi tersebut dikerjakan oleh Roh Kudus yang ada di dalam setiap orang percaya. Roh Kudus merupakan pribadi Allah. Dalam Bahasa Yunani, Roh Kudus juga dikenal sebagai ‘Parakletos’ yang artinya “Seorang yang dipanggil atau diutus untuk menolong orang lain.”

 

Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Yoh 14:26

 

Roh Kudus adalah pribadi Allah yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak.

 

Jika kita izinkan Roh Kudus bekerja dengan leluasa, maka dia akan bekerja:

  • ke luar dengan memberikan karunia-karunia Roh untuk melayani, dan
  • ke dalam memanifestasikan sifat-sifat dari Allah melalui prilaku kehidupan orang percaya.

Manifestasi Roh tersebut kita sebut dengan ‘buah roh’. (Gal 5:22-23)

Buah Roh bukan sifat alamiah, tetapi karakter orang percaya yang diperbaharui karena melekat pada Kristus (Yoh 15:5), dan ini merupakan tanda kedewasaan rohani. Jadi buah roh itu adalah bukti dari hasil kerja Roh Kudus yang dapat kita lihat dari kehidupan seorang percaya.

 

  1. Apakah Seseorang Bisa Menunjukan Nilai-nilai Kebaikan Tanpa Pertolongan Roh Kudus?

 

Untuk bisa berbuat baik atau menunjukkan kebaikan seperti yang nampak dari buah Roh, seseorang tidak harus mengenal Roh Kudus. Banyak orang seperti para filantrop (orang yang dermawan), para pemuka agama, para aktivis sosial yang berbuat banyak kebaikan; bahkan kelihatannya bisa lebih baik daripada orang percaya.

Semua orang, dimanapun dia dibesarkan, dalam budaya apapun atau keluarga apapun, bisa menerima dan menyetujui  prinsip-prinsip Buah Roh. Tidak heran jika dikatakan bahwa “tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Gal 5:23).

Namun demikian ada perbedaan yang mendasari prinsip-prinsip dari buah roh tersebut antara orang percaya dan orang dunia.

Bagi orang percaya, di mana hidupnya didiami (indwelled) dan dituntun oleh Roh Kudus, prinsip-prinsip buah roh dilakukannya untuk memuliakan Tuhan. Semua ditujukan untuk menyenangkan Dia. Firman Tuhan menjadi standar untuk prinsip tersebut. Tetapi buat orang dunia, yang hidupnya dikuasai oleh kedagingan, perbuatan baiknya didasari oleh pemahaman orang itu sendiri. Motivasi orang yang melakukan kebaikan umumnya didasarkan pada keuntungan pribadi.

  1. Apakah Orang Yang Berbahasa Roh (Glossolalia) Pasti Menghasilkan Buah Roh?

Seseorang bisa saja berdoa dengan sering berbahasa roh dalam pertemuan-pertemuan ibadah, tetapi hidupnya sama sekali masih sarat dengan kedagingan dan tidak menunjukan tanda-tanda buah roh.

Dalam hal ini, bahasa Roh tidak disertai dengan kepenuhan Roh Kudus yang senantiasa. Jadi harus ada suatu upaya agar orang percaya senantiasa membiarkan Roh Kudus terus-menerus bekerja, memimpin dan membentuk karakter Kristus.

Kedisiplinan rohani seperti: bersaat teduh, berdoa di Menara Doa, berbahasa roh, membaca Firman Tuhan, bersekutu dalam COOL, ikut serta aktif dalam pelayanan, bisa membantu orang percaya untuk dapat hidup dalam pimpinan Roh Kudus dan akhirnya menunjukkan buah roh dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak kita menemukan orang-orang yang berbahasa roh dan juga menghasilkan buah roh dalam karakternya. Kedewasaaan rohani dan kemampuan berbahasa roh bisa lebih tepat kita katakan merupakan co-relational, artinya dapat ditemukan bersama-sama tetapi tidak selalu berkaitan.

Seperti halnya kita sering temui di sebuah taman ada seekor burung hampir selalu diikuti ada tupai pada waktu yang bersamaan, tetapi bukan berarti keberadaan mereka tergantung satu dengan yang lainnya. Terkait hubungan antara buah Roh dengan karunia Roh, Stanley Horton menyatakan:

“Buah Roh menjadi cara untuk memakai karunia Roh. Keseluruhan buah dibingkai dalam kasih, dan karunia apapun, bahkan dalam manifestasinya yang penuh, tidak berarti apapun tanpa kasih. Di lain pihak, kepenuhan Roh Kudus yang sejati pasti akan menghasilkan buah Roh; ini disebabkan oleh hidup yang bergairah dan diperkaya dalam persekutuan dengan Kristus.”  

 

  1. Apakah Dampak Buah Roh Dalam Kehidupan Orang Percaya?

Akan menjadi garam dan terang (Yes 60:1)

Buah sebuah pohon tidak dinikmati oleh pohonnya sendiri. Daging dari buah tersebut dinikmati oleh binatang atau manusia yang memakannya. Demikian juga dengan buah Roh.

 “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” (Ef 5:8-9)

 Orang percaya yang menghasilkan buah roh pasti akan berdampak kepada orang lain disekitarnya. Rasul Paulus mengatakan orang yang menghasilkan buah adalah karena mereka hidup sebagai anak-anak terang. Nabi Yesaya menulis mengenai terang:

 “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.” (Yes 60:1)

 Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang karena kemuliaan Tuhan sudah kita dapatkan ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup kita. Kita bukanlah sumber terang, tetapi sumber terang itu sudah tinggal di dalam kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi saluran atau cerminan terang Tuhan dengan cara berbuah.

Yesus berkata mengenai menjadi terang:

 “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:14-16)

 Ternyata kita memang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi terang yang dapat dilihat oleh orang lain seperti kota yang di atas gunung atau pelita di atas kaki dian. Artinya kita diselamatkan bahkan diberikan Roh Kudus untuk mendiami kita, supaya kita menjadi kesaksian bagi orang lain dengan tujuan mereka menjadi percaya dan memuliakan Tuhan. Menghasilkan buah Roh; tujuan akhirnya adalah agar orang lain dapat menikmati buah dari kehidupan kita mengikut Yesus, sehingga pada akhinya mereka pun akan mengikut Yesus sebagai dampak kesaksian hidup kita. (RL)

Sumber : Warta Pusat HMMinistry

Silakan share :