Renungan Khusus

 Minggu Kedua Agustus 2018

 

“Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?” – Yakobus 2:5

Yerusalem, Los Angeles, Sentul City

Hati Allah ialah untuk menjangkau seluruh umat manusia di dalam klaster budaya dimana manusia itu hidup. Sama seperti ikan yang tidak bisa hidup di luar dari air, demikian pula manusia memerlukan konteks budaya untuk mendukung kehidupannya, baik secara fisik, identitas korporat maupun ekspresi jiwanya. Firman Tuhan sangat jelas mengatakan bahwa Israel dipilih bukan karena mereka bangsa yang paling besar atau paling hebat, sebaliknya mereka adalah bangsa yang paling tegar tengkuk (Ulangan 9:6-13). Inilah yang kita sebut prinsip “mission in action”.

Sebetulnya seseorang atau suatu bangsa yang dipilih Tuhan bukanlah suatu pernyataan tentang kehebatan orang atau bangsa tersebut. Hal itu justru merupakan pernyataan misi bahwa orang atau bangsa tersebut dituntut lebih untuk bisa menyampaikan kasih Allah sampai kepada semua klaster Budaya. Bangsa Israel dipilih untuk menjadi penerima hukum-hukum Allah supaya dengan melihat interaksi mereka dengan Allah, semua bangsa di muka bumi akan melihat dan mengenal Allah yang benar.

Firman Tuhan mencatat kegagalan bangsa Israel di dalam melaksanakan misi tersebut. Mereka cenderung lupa akan tugas dan tanggung jawab mereka bahkan melupakan Tuhan yang memberikan panggilan kepada mereka yang disertai dengan berkat-berkat-Nya. Untung Allah tidak pernah melupakan panggilan-Nya. Ia tetap memakai bangsa Isarel karena masih ada ‘orang-orang tersisa’ yang setia kepada Tuhan.

Oleh karena ‘orang-orang tersisa’ yang setia kepada rencana Tuhan seperti Maria dan Yusuf yang dipakai di dalam suatu tugas mulia untuk melahirkan Mesias secara fisik. Rencana penebusan Allah akhirnya digenapi. Tuhan Yesus menyelesaikan rencana penebusan yang digariskan oleh Bapa dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya Ia memberikan perintah kepada murid-murid untuk menunggu di Yerusalem sampai mereka dipenuhi dengan janji Bapa, yaitu Roh Kudus yang akan memberikan mereka kuasa dari tempat yang maha tinggi.

 Loteng Atas Yerusalem

Tempat ini memainkan peranan yang cukup signifikan dalam minggu-minggu terakhir dalam pelayanan Tuhan Yesus di muka bumi ini. Di tempat inilah Tuhan Yesus melakukan perjamuan malam terakhir dan menginstitusikannya. Di tempat ini jugalah Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Di dalam Markus 14:13; Lukas 22:10 Yesus menyuruh dua orang murid-Nya untuk berjumpa dengan seorang laki-laki yang membawa kendi berisi air dan menyuruh mengikuti orang tersebut.

Kemungkinan besar orang tersebut adalah anggota sekte Eseni, karena pada zaman itu tidak ada laki-laki membawa kendi berisi air di muka umum, kecuali kaum Eseni karena mereka hampir semuanya tidak menikah. Secara tradisi tempat ini dimiliki oleh kaum Eseni. Kaum Eseni mendedikasikan diri mereka untuk suatu pengharapan apokaliptik, yaitu menantikan kedatangan Mesias. Kemungkinan besar Yohanes Pembaptis berasal dari kelompok mereka.

Jadi dari loteng atas kita dapat melihat urutan-urutan peristiwa seperti mengharapkan kedatangan Sang Mesias, unity diantara murid-murid Tuhan Yesus, dan dengan latar belakang ini mereka memilih tempat itu sebagai wahana untuk menantikan pencurahan janji Bapa.

Secara sosiologis Yerusalem pada abad pertama adalah salah satu dari kota-kota besar di dalam kekaisaran Romawi. Diperkirakan pada waktu itu Yerusalem memiliki penduduk lebih dari 100.000 jiwa. Mengapa Allah dalam kedaulatannya memilih Yeruselam dan Loteng Atas sebagai tempat pencurahan Roh kudus pertama kali yang menandakan dimulainya era baru dalam Peranjian Baru? Jawabannya adalah selain kedaulatan Tuhan, faktor-faktor sosiologis memainkan peranannya seperti berkumpulnya bangsa-bangsa dan orang-orang Yahudi perantauan pada hari Raya Paskah dan Pentakosta. Tersedianya murid-murid awal Tuhan Yesus yang akan menjadi fasilitator, berkumpulnya orang-orang banyak dimana mereka akan menjalankan kehidupan korporat sebagai gereja mula-mula selama kurang lebih dua tahun (Kisah 28).

Tidak ada sesuatu yang secara rohani “istimewa” tentang loteng atas tersebut setelah pencurahan Roh Kudus pertama kali. Pencurahan Roh Kudus terjadi di tempat-tempat lain, dan setelah terjadi penganiayaan terhadap gereja mula-mula jemaat di Yerusalem tersebar kecuali para Rasul, jadi mengapakah Allah memilih Yerusalem dan Loteng Atas sebagai tempat pertama pencurahan Roh Kudus ke atas segala makhluk? Jawabannya dapat dilihat dari berbagai faktor, salah satunya adalah kedekatan Raja Daud yang kuburnya berada di dekat loteng atas. Tradisi Yahudi mengatakan bahwa Raja Daud lahir dan meninggal pada hari pentakosta, juga apa yang terjadi di dalam kehidupan Tuhan Yesus terutama di dalam minggu terakhir-Nya di muka bumi selain juga faktor sosiologis yang membuat logistik lahirnya gereja mula-mula dapat diakomodasi di Yerusalem.    

Azusa Street, Los Angeles California

Awal abad ke-20 adalah masa yang amat menarik di dalam sejarah dunia. Pada periode itulah Amerika Serikat menjadi negara yang membentang diantara dua samudera yaitu Samudera Atlantik dengan kota-kota di pantai timur Amerika dan California di pantai barat. Gold Rush yang dimulai tahun 1849 membuat orang-orang meninggalkan pantai timur dan berbondong-bondong menuju California dan pada saat yang sama imigrasi besar-besaran ke Amerika mulai mencapai puncaknya bukan hanya dari negara-negara Eropa tetapi juga Amerika latin dan Asia. Los Angeles pada tahun 1906 adalah “Melting Pot” dari hampir semua bangsa yang ada di dunia. Sejarah mencatat bahwa kebangunan rohani Azusa Street yang dipimpin oleh William Seymour mayoritas diikuti oleh orang-orang non kulit putih, karena William Seymour adalah seorang berkulit hitam secara alami pengikut terbesar pengikut William Seymour adalah African – American. Golongan kedua adalah kaum berbahasa Spanyol Hispanik dan diikuti oleh orang-orang Tionghoa dari provinsi Guang Dong yang datang ke Amerika untuk mencari emas tetapi ternyata mereka tidak mendapatkan emas namun bekerja untuk menggali jalur kereta api yang menghubungkan California dengan daerah barat. Jika sekarang kita pergi di persimpangan jalan Bonnie Brae dan Azusa kita masih melihat rumah Pendeta William Seymour yang sekarang dipelihara sebagai tempat peringatan kejadian kebangunan rohani Azusa Street. Gudang tempat William Seymour berkhotbah sudah tidak ada lagi, sekarang menjadi pusat kebudayaan Jepang di Los Angeles. Kebangunan Rohani Azusa Street pun dicatat hanya terjadi selama tiga tahun, tetapi dampaknya menyebar ke seluruh dunia dan mencapai Indonesia pda tahun 1923 di Cepu Jawa Timur. Meskipun kebangunan rohani Azusa Street hanya terjadi selama 3 tahun (1906-1909), namun dampaknya menyebar ke seluruh dunia; Eropa, Afrika dan terutama Asia.

Sentul City, Bogor – Jawa Barat

Pada waktu Tuhan menyuruh hamba-Nya untuk mendirikan kompleks SICC sebetulnya kebutuhan yang dirasakan pada saat itu hanyalah untuk menampung kegiatan doa pengerja bulanan yang sudah mencapai jumlah antara 7.000 – 8.000 orang /bulannya. Di dalam proses pembangunan jemaat GBI Gatot Subroto diproses oleh Tuhan untuk naik di dalam level unity dan Tuhan mulai menyatakan tujuannya untuk tempat ini yang akan menjadi “Healing Center” dan “Miracle Center”. Tempat yang akan membawa dampak bagi transformasi Indonesia dan bangsa-bangsa. Tempat ini juga telah didedikasikan untuk menyambut hadirat kemuliaan Tuhan. Sepanjang perjalanan sejarah gedung ini makin jelas terlihat bahwa Tuhan telah menyiapkan kompleks ini untuk menjadi loteng atas abad ke-21 dengan memperhitungkan faktor-faktor sosiologis sebagai berikut:

  • Kemudahan untuk mengakses Indonesia bagi bangsa-bangsa di sekitarnya terutama bagi bangsa-bangsa di Benua Asia.
  • Kesaksian Transformasi Indonesia yang meskipun masih jauh dari sempurna tapi dapat menginspirasi bangsa-bangsa lain untuk menyongsong karya Roh Kudus di negeri mereka juga.
  • Biaya hidup yang masih dikatakan murah untuk ukuran benua Asia sehingga memudahkan bagi bangsa-bangsa yang ingin berkunjung untuk mendapatkan ‘api’ Roh Allah.

 

Tuhan sanggup memakai apa yang awalnya terlihat biasa menjadi sesuatu yang luar biasa. Ketika kerinduan hati Tuhan akan dinyatakan, yang diperlukan adalah orang-orang yang memiliki hati seperti murid-murid pada gereja mula-mula, mereka yang bersedia dipakai Tuhan untuk mewujudkan rencana-Nya. Adanya benang merah antara rencana Tuhan dengan faktor-faktor pendukung dari pihak manusia dan bangsa, jika hal itu bertemu, akan menghasilkan suatu revival yang dahsyat. (AL)

Mission in Action 

Hati Allah ialah untuk menjangkau seluruh umat manusia di dalam klaster budaya dimana manusia itu hidup. Sama seperti ikan yang tidak bisa hidup di luar dari air, demikian pula manusia memerlukan konteks budaya untuk mendukung kehidupannya, baik secara fisik, identitas korporat maupun ekspresi jiwanya. Firman Tuhan sangat jelas mengatakan bahwa Israel dipilih bukan karena mereka bangsa yang paling besar atau paling hebat, sebaliknya mereka adalah bangsa yang paling tegar tengkuk (Ulangan 9:6-13).

Silakan share :